Spitting Demon Bicara Wajah Skena Hari Ini
Grup musik metalcore asal Samarinda, Spitting Demon, menjawab pelbagai isu yang kini jadi perbincangan hangat di tongkrongan mereka. Mulai dari royalti, hingga kondisi komunitas musik bawah tanah lokal hari ini.

ANTON, frontman Spitting Demon mengatakan, sebagai sbuah band dan kolektif, biasanya jawaban yang muncul punya warna ideologis sekaligus praktis. Tergantung kultur band itu sendiri.
“Buat kami, band adalah kerja bareng. Jadi royalti bukan soal siapa paling banyak bikin riff atau lirik, tapi bagaimana karya ini lahir dari energi bersama. Prinsipnya, dibagi rata supaya semua merasa punya andil dan nggak ada yang merasa dianaktirikan,” jelasnya.
Jadi, jawaban kami sebagai band dan kolektif biasanya campuran antara solidaritas (bagi rata, Red.), keadilan kreatif (proporsional Red.), dan ideologi. Karena bagi kami musik bukan sekadar uang,” imbuh Anton.
Baginya, tak ada masalah jika ada band lain yang membawakan lagu-lagu mereka, “Yang penting si band bisa membawakan lagu kita dengan benar dan bagus. Itu aja sih,” terangnya.
Anton menjelaskan, skena musik bawah tanah hari ini, khususnya Kota Tepian, telah berubah sejak dua dekade lebih terakhir. Meski, semangat kolektivitasnya tetap membara di setiap tongkrongan.
“Skena hari ini lebih cair. Dulu ruangnya lebih fisik. Gigs kecil, zine fotokopian, kaset DIY. Sekarang banyak pindah ke digital. Tapi semangat kolektif masih hidup lewat platform online, kolaborasi lintas kota, bahkan lintas negara,” sebutnya.
Disamping itu, Anton menerangkan, saat ini akses informasi memang lebih mudah sekaligus lebih konsumtif. “Anak-anak baru gampang bikin rilisan dan share musik, itu bagus. Tapi kadang semuanya jadi serba instan. Musik gampang lewat begitu saja. Tantangannya, bagaimana bikin sesuatu yang tetap membekas,” paparnya.
Hari ini, di skena metalcore lokal sendiri, banyak band-band baru bermunculan dengan musikalitas yang baik. Pun, banyak pula nama kolektif lain yang tumbuh subur di beberapa tempat. Dampaknya, banyak band-band dari Pulau Jawa yang mau tour ke Samarinda.
Lantas, mengapa tiba-tiba Kota Tepian bisa masuk dalam peta musik di Pulau Jawa? “Samarinda ada di pinggiran peta industri musik nasional. Justru karena itu, skena bawah tanah di sini penting sebagai bentuk perlawanan terhadap sentralisasi budaya yang selalu menganggap pusat itu Jawa atau Jakarta,” ujarnya, tertawa.
“Skena di Samarinda juga jadi penghubung ke kota lain di Kalimantan. Kalau Samarinda hidup, maka jaringannya makin kuat. Gigs bisa berputar lintas kota tanpa harus bergantung ke di central (Jawa dan Jakarta, Red.), timpal Anton.
Di Samarinda sendiri, minimnya venue utu gigs adalah realita yang bikin bermain musik berat. Nmaun di lain sisi memaksa mereka agr lebih kreatif. Anton menyatakan, banyak ruang publik yang harusnya bisa dipakai justru tertutup karena regulasi dan terlalu banyak birokrasi. Ada kecenderungan negatif yang ia rasakan terhadap stigma musik cadas.
“Akhirnya gigs pindah ke kafe kecil atau ruang seadanya. Memang capek, tapi justru di situ letak semangatnya kami tetap bermain musik cadas,” tutup Anton. (*)



